ores
  • about
  • contact
  • sitemap

Cak Nun dan Kiai Kanjeng tanpa Pak Nevi Budianto

15 July 2018

Hari Jumat 13 Juli 2018 mungkin adalah satu diantara hari yang saya tunggu dengan penuh rasa dug dug deng, karena salah satu orang yang ingin saya temui walau hanya sebatas melihat wujudnya secara real akan hadir dan mengisi acara di kota saya tercinta SALATIGA. Walau bukan kota kelahiran saya, tapi kota itulah saya besar dan disana saya bisa menikmati kopi yang nikmat. Jumat 13 Juli 2018 mulai pukul 19:00 ada acara sinau bareng cak nun yang diadakan Pemkot Salatiga dalam rangka ulang tahun Kota Salatiga yang kesekian. Bersama itu pula salah satu kelompok musik yang saya suka, Kiai Kanjeng akan mengiringi dengan aransemen – aransemen tradisional dicampur modern yang tentunya menggetarkan hati bagi yang peka terhadap ruh dari setiap nada.

Mengapa saya sedemikian ingin untuk bisa menghadiri acara ini ?

Saya adalah orang yang tidak suka datang ke pengajian. Karena menurut saya pengajian akhir – akhir ini malah seperti kita datang hanya untuk di doktrin dengan materi yang dibawakan pengisi pengajian. Ah apalagi kalau yang ngisi itu … ah sudahlah, daripada menimbun keburukan dengan menggamblangkan si A si B si C lebih baik tidak usah.

sinau bareng cak nun
Dan acara cak nun, merupakan acara sinau bareng, dimana materi ada karena interaksi antara pembicara dengan yang hadir, atau semacam diskusi tentang keagamaan, realita hidup, kebersamaan tanpa memandang perbedaan SARA, dan tentang cinta. Dan yang penting, apa yang kita dapat adalah apa yang kita inginkan. Cak nun membantu menuntun dan memberi triger atas masalah yang ada, sehingga mau tidak mau saya sebagai pendengar harus bisa menggunakan akal dan logika untuk mengambil inti atau nilai yang ada.

— skip part 1 —

Selain itu, saya sangat ingin ketemu dengan seseorang yang bernama NEVI BUDIANTO. Seseorang yang saya menurut saya jenius dibidang gamelan dan berhasil mengamanahkan kejeniusannya sehingga terbentuklah Kiai Kanjeng dengan musik khas gamelan tanpa ada pelog slendro yang tersekat, tetapi pelog slendro yang berbaur dan nyawiji menjadi harmoni yang modern tanpa meninggalkan corak kebudayaan daerah. Dengan cintanya, Nevi Budianto memodifikasi gamelan sehingga meleburkan sekat perbedaan tanpa merubah identitas masing – masing.

Dan seseorang bernama SABRANG, walau punya nama yang lebih dikenal banyak rakyat Indonesia karena beliau vokalis salah satu band terkenal, tapi saya lebih suka memanggil dengan nama SABRANG. Saya suka dengan umpan – umpan silang atau pemikiran – pemikiran nakal apalagi tentang rumus – rumus kehidupan yang menyingkronkan matematika, fisika, dan kehidupan nyata.

Selain itu, saya berharap mendapat bonus dengan digandenganya mbah TEJO atau Sudjiwo Tejo maka akan lebih lengkaplah malam 13 Juli nanti.

— skip part 2 —

Singkatnya, Jumat 13 Juli 2018 jam delapan malam lebih saya sudah mambaur dengan rombongan dari berbagai daerah di alun – alun kota salatiga. Mata saya tertuju pada deretan orang berpakaian putih yang menabuh gamelan dan sebagian memainkan alat musik modern. Sebagian yang saya kenali ada Doni, mas Islamiyanto, dan saya tidak menemukan sosok manusia penuh ekspresi Pak Nevi Budianto.

Setelah beberapa saat sholawat beralun, Cak Nun masuk ke area tanpa Sabrang dan mbah Tejo disamping beliau, dan Pak Nevi tetap belum kelihatan. Dan tanpa mengingkari jika kami semua adalah warga Indonesia, Cak Nun mengajak menyanyikan lagu Indonesia Raya dan syukur.

Cak Nun memberi kabar duka bahwa istri Pak Nevi Budianto, yakni Ibu Eni Untari meninggal dunia. Dan Pak Nevi tidak bisa ikut bersama Kiai Kanjeng malam ini sehingga malam ini kiai kanjeng perform tanpa beliau, tapi saya yakin bahwa cinta beliau sudah masuk dan melebur ke jiwa masing – masing personil sehingga harmoni yang keluar malam itu tetap mantab jiwa.

— skip part 3 —

Jam 12 tengah malam saya bersama istri dan anak saya yang besar yaitu founder kata ores.web.id ini meninggalkan lokasi karena tidak mungkin saya memaksakan keinginan saya dengan mengesampingkan kondisi anak istri yang tidak seperti saya yang biasa melek malam untuk mengerjakan apa yang susah saya kerjakan waktu siang dan ini event outdoor tentunya angin dan hawa dingin menjadi alasan tersendiri untuk kesehatan mereka.

Dalam hati, saya masih ingin untuk menghadiri acara serupa entah kapan dan saya berdoa semoga saya masih diberi kesempatan untuk bertemu dan sinau bareng cak nun plus bertemu dengan Pak Nevi Budianto, untuk menyerap, mengambil setiap nilai kebaikan yang bertebaran seiring harmoni yang keluar dari tiap bit gamelan Kiai Kanjeng. Dan semoga mbah nun serta seluruh personil kiai kanjeng diberi umur panjang agar kelak anak cucu saya masih bisa ikut menjaring inti sari kehidupan penuh cinta yang mereka tebarkan. selamat jalan Ibu Eni Untari, semoga Allah menempatkanmu satu bilik dengan orang terkasihNya. Selamat berkreasi Pak Nevi dan Kiai kanjeng, gaungkan cinta ke seluruh pelosok dunia, semoga kelak kalian perform disalah satu panggung di syurga.

COMMENTS

Leave a Reply